Selasa, 10 Januari 2017

per

1. Persamaan garis lurus yang melalui titik (–2, –1) dan tegak lurus garis 4x – 3y + 5 = 0 adalah ….
A.   4y + 3x + 10 = 0                             C. 4y – 3x + 10 = 0
B.   4y + 3x – 10 = 0                             D. 4y – 3x – 10 = 0


mandiri

yaitu teori Gujarat.
Teori Makkah berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 dan
pembawanya berasal dari Arab (Mesir).
Dasar teori ini adalah:
a. Pada abad ke 7 yaitu tahun 674 di pantai barat Sumatera sudah terdapat
perkampungan Islam (Arab); dengan pertimbangan bahwa pedagang Arab sudah
mendirikan perkampungan di Kanton sejak abad ke-4. Hal ini juga sesuai dengan
berita Cina.
b. Kerajaan Samudra Pasai menganut aliran mazhab Syafi’i, dimana pengaruh
mazhab Syafi’i terbesar pada waktu itu adalah Mesir dan Mekkah. Sedangkan
Gujarat/India adalah penganut mazhab Hanafi.
c. Raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar Al malik, yaitu gelar tersebut berasal
dari Mesir.
Pendukung teori Makkah ini adalah Hamka, Van Leur dan T.W. Arnold. Para ahli
yang mendukung teori ini menyatakan bahwa abad 13 sudah berdiri kekuasaan politik
Islam, jadi masuknya ke Indonesia terjadi jauh sebelumnya yaitu abad ke 7 dan yang
berperan besar terhadap proses penyebarannya adalah bangsa Arab sendiri.
Dari penjelasan di atas, apakah Anda sudah memahami? Kalau sudah paham simak
teori berikutnya.
Teori Persia
Teori ini berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad 13 dan pembawanya
berasal dari Persia (Iran).
Dasar teori ini adalah kesamaan budaya Persia dengan budaya masyarakat Islam
Indonesia seperti:
a. Peringatan 10 Muharram atau Asyura atas meninggalnya Hasan dan Husein
cucu Nabi Muhammad, yang sangat di junjung oleh orang Syiah/Islam Iran. Di
Sumatra Barat peringatan tersebut disebut dengan upacara Tabuik/Tabut.
Sedangkan di pulau Jawa ditandai dengan pembuatan bubur Syuro.

berikut

PROSES MASUK DAN BERKEMBANGNYA ISLAM di INDONESIA

Islam merupakan salah satu agama yang masuk dan berkembang di Indonesia. Hal ini tentu bukanlah sesuatu yang asing bagi Anda, karena di mass media mungkin Anda sudah sering mendengar atau membaca bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki penganut agama Islam terbesar di dunia.Agama Islam masuk ke Indonesia dimulai dari daerah pesisir pantai, kemudian diteruskan ke daerah pedalaman oleh para ulama atau penyebar ajaran Islam. Mengenai kapan Islam masuk ke Indonesia dan siapa pembawanya terdapat beberapa teori yang mendukungnya.
Proses Masuk dan Berkembangnya Agama dan Kebudayaan Islamdi Indonesia.
Proses masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia menurut Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya yang berjudul Menemukan Sejarah, terdapat 3 teori yaitu teori Gujarat, teori Makkah dan teori Persia.Ketiga teori tersebut di atas memberikan jawaban tentang permasalah waktu masuknya Islam ke Indonesia, asal negara dan tentang pelaku penyebar atau pembawa agama Islam ke Nusantara. Untuk mengetahui lebih jauh dari teori-teori tersebut, silahkan Anda simak uraian materi
berikut ini.
Teori Gujarat
Teori berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad 13 dan
pembawanya berasal dari Gujarat (Cambay), India. Dasar dari teori ini adalah:
a. Kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran
Islam di Indonesia.
b. Hubungan dagang Indonesia dengan India telah lama melalui jalur Indonesia –
Cambay – Timur Tengah – Eropa.
c. Adanya batu nisan Sultan Samudra Pasai yaitu Malik Al Saleh tahun 1297 yang
bercorak khas Gujarat.
Pendukung teori Gujarat adalah Snouck Hurgronye, WF Stutterheim dan Bernard
H.M. Vlekke. Para ahli yang mendukung teori Gujarat, lebih memusatkan perhatiannya
pada saat timbulnya kekuasaan politik Islam yaitu adanya kerajaan Samudra Pasai.
Hal ini juga bersumber dari keterangan Marcopolo dari Venesia (Italia) yang pernah
singgah di Perlak ( Perureula) tahun 1292. Ia menceritakan bahwa di Perlak sudah
banyak penduduk yang memeluk Islam dan banyak pedagang Islam dari India yang
menyebarkan ajaran Islam.
Demikianlah penjelasan tentang teori Gujarat. Silahkan Anda simak teori berikutnya.
Teori Makkah
Teori ini merupakan teori baru yang muncul sebagai sanggahan terhadap teori lama

posi

Ø  FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB

1.      Faktor internal
·         ide dan perubahan
·         terjadinya pemberontakan atau revolusi
·         bertambah dan berkurangnya penduduk
·         pertentangan masyarakat
·         konflik nilai
·         konflik dan perubahan
·         adanya penemuan baru

2.      Faktor eksternal
·         peperangan
·         pengaruh kebudayaan masyarakat lain

·         lingkugan alam fisik disekitar manusia

entri

1.      Perubahan Berpengaruh Besar dan Kecil
Perubahan yang berpengaruh besar adalah perubahan yang memberi pengaruh langsung pada kehidupan masyarakat.
Contoh : industrialisasi , modernisasi,dan globalisasi
Perubahan berpengaruh kecil adalah perubahan yang tidak memberi pengaruh langsung pada kehidupan masyarakat.
Contoh : perubahan tata bahasa dan gerakantari

Ø  FAKTOR YANG BERPENGARUH

1.      Faktor-Faktor Pendorong
·         Toleransi terhadap perubahan
·         adanya orientasi di masa depan
·         penduduk yangheterogen
·         ketidakpuasan masyarakat pada bidang kehidupan tertentu
·         sistem pelapisan terbuka
·         keinginan untuk maju

2.      Faktor-Faktor Penghambat
·         hambatan ideologis
·         pendidikan yang rendah
·         adat atau kebiasaan yamg kolot
·         perasangka buruk terhadap budaya asing
·         ketakutan akan adanya kegoyahan integrasi
·         kurang hubungan dengan masyarakat lain

Ø  FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB

1.      Faktor internal
·         ide dan perubahan
·         terjadinya pemberontakan atau revolusi
·         bertambah dan berkurangnya penduduk
·         pertentangan masyarakat
·         konflik nilai
·         konflik dan perubahan

·         adanya penemuan baru

judul

PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA PADA MASYARAKAT

Ø  HAKIKAT PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA

Perubahan sosial budaya adalah dampak munculnya unsur unsur yang dapat mengubah UBAHAN nilai,norma,dan kebudayaan masyarakat.yang bentuk perubahan nya disesuaikan dengan tingkat kebutuhan.

1.      Perubahan Sosial
Perubahan sosial adalah perubahan yang berkenaan dengan kehidupa masyarakat yang termasuk perubahan sistem nilai dan norma sosial , siste pelapisan sosial , struktur sosial, proses sosial , pola dan tindakan sosial warga masyarakat .

2.      Perubahan Kebudayaan
Menurut  E.B.Taylor , perubahan kebudayaan adalah perubahan yang mencakup pengetahuan , kepercayaan , kesenian, moral,hukum,adat istiaddat dan setiap kemampuan serta kebiasaan manusia

3.      Pengertian Perubahan Sosial Budaya
Menurut  MAX WEBER , perubahan sosial budaya adalah perubahan situasi dalammasyarakat sebagai akibat adanya   ketidak sesuaian unsur unsur .

4.      Ciri-ciri
·         Setiap masyarakat tidak akan berhenti berkembang
·         Perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan tertentu
·         Perubahan sosial yang cepat
·         Perubahan tidak dibatasi oleh bidang kebendaan ataubidang spiritual
·         Adanya proses sosial yaitupergantian beragam penghargaan,fasilitas,dan anggota dalam suatu struktur sosial
·         Adanya segmentasi atau pembagian yaitu timbulnya pengklasifikasian unitunit struktur yang hampir sama dengan unit yang telah ada sebelumnya
·         Adanya perubahan struktur yaitu timbulnya peran dariorganisasi yang baru


Ø  BENTUK BENTUK PERUBAHAN SOSIAL

1.      Perubahan Direncanakan dan Tidak Direncanakan
Perubahan yang direncanakan adalah perubahan yang dikehendaki , diinginkan, dan direncanakan oleh suatu pihak tertentu, contoh :pembangunan rumah kompleks tahan gempa. Perubahan yang tidak direncanakan adalah perubahan yang terjadi tanpa disengaja atau tidak diinginkan yang terjaddi tanpa disengaja atau tidak diinginkan
Contoh: bencana banjir, dan meningkatnya angka kriminalitas

2.      Perubahan Revolusi dan Evolusi
Revolusi adalah perubahan yang terjadi dengan cepat.
Contoh : revolusi industri inggris ,revolusi indonesia 1945.
Evolusi adalah perubahan yang terjadi dengan lambat.

Contoh : kehidupan suku bangsa kita seperti nias , dani , dayak

nega

Dampak Positif dan Negatif  Perekonomian Dalam Pendidikan Islam di Indonesia.
Salah satu dampak negatif dari komersialisasi pendidikan Indonesia adalah mahalanya biaya pendidikan sehingga memberatkan masyarakat miskin untuk membayar biaya pendidikan. Akan tetapi, ada juga dampak positifnya yaitu dengan biaya pendidikan yang cukup tinggi adalah untuk menunjang mutu pendidikan itu sendiri.[7]
      Beberapa tokoh yang berperan dalam Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia
1.   Kiyai H. Ahmad Dahlan
Dilahirkan di yogjakarta pada tahun 1869 M. Ayahnya bernama KH. Abu Bakar bin Kyai Sulaiman dan ibunya seorang puteri Haji Ibrohim seorang penghulu. Ia berusaha menyadarkan masyrakat akan pentingnya membuag kebiasaan yang tidak baik dan menurut pendapatnya tidak sesuai dengan Islam dan berlandaskan cita – cita agama Islam.
2.   Kyai Haji Hasyim Asy’ari
Dilahirkan di jombang, Jawa Timur pada tanggal 14 februari tahun 1981 M. Beliaulah yang mendirikan pesantren yang lumayan terkenal pada saat ini yaitu pesantren Tebuireng. Di pesantren inilah Kyai Hasyim Asy’ari dibantu dengan Kyai-Kyai lain. Selain itu beliau juga menjadi pimpinam Masyumi, Hizbullah, GPII, dan lain-lain.

3.   Kyai Abdul Halim
Lahir di Ciberelang, majalengka pada tahun 1887M. Dia adalah pelopor gerakan pembaharuan di daerah Majalengka, Jawa Barat. Dia berhasil mendirikan persyarikatan ulama. Ia memegang teguh mazhab Syafi’i. tablighnya lebih banyak merupakan anjuran untuk menegakkan etika didalam masyarakat.


DAFTAR PUSTAKA
Haidar Putra Daulay, Prof. Dr. Sejarah Pertumbuhan & Pembaharuan Pendidikan Islam Di Indonesia. Bandung : Citapustaka Media, 2001
Musyrifah Sunanto, Prof. Dr. Sejarah Peradaban Islam Indonesia. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2012
Darmaningtyas. Pendidikan Yang Memiskinkan. Yogyakarta : Galang Press, 2004
Mudyaharjo, Redja. Pengantar Pendidikan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2001
http://www. Suara Merdeka/v1?index.php/read/com.


holt

Komersialisasi Pendidikan Islam di Indonesia
Pendidikan merupakan hal mendasar yang harus diperoleh oleh semua warga negara. Setiap warga berhak mendapatkan pendidikan yang layak, tanpa melihat status sosial warga tersebut. Hal ini diatur dalam konstitusi Negara Republik Indonesia, yaitu dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1. Namun idealitas ini sangat berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada dalam masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah akibat meruaknya praktik komersialisasi pendidikan yang menyebabkan idealitas hanya sebatas impian belaka.
Dewasa ini pendidikan semacam diperjualbelikan oleh sebagian oknum yang memegang kendali atas pendidikan dan lembaga pendidikan. Dengan embel-embel "pendidikan yang bermutu itu harus mahal" mereka berlomba mendapat keuntungansebesar-besarnya. Komersialisasi ini pun telah berdampak pada tingginya biaya pendidikan. Secara gamblang, masyarakat “disuguhi sesuatu” yang (seolah-olah) mengamini kondisi tersebut. Contoh sederhana dapat dilihat ketika memasuki tahun ajaran baru. Tak terbayangkan betapa banyaknya orang tua yang mengeluh akibat buku pelajaran yang digunakan tahun ajaran sebelumnya tidak lagi dapat digunakan di tahun ajaran berikutnya.
Kondisi ini tentu sangat memberatkan masyarakat yang sebagian besar masih hidup di bawah garis kemiskinan. Siswa dipaksa menggunakan buku pelajaran baru sebagai pengganti buku lama yang konon “tidak layak” dipakai acuan lagi, dengan harga yang relatif tinggi. Padahal jika dicermati, materi atau pokok bahasan di dalamnya sama persis, tanpa ada “ilmu” baru yang dicantumkan. Permasalahan dunia pendidikan tentunya tidak hanya sebatas buku-buku pelajaran saja. Masih banyak pula bentuk-bentuk komersialisasi tak jelas, seperti pungutan-pungutan “sukarela”, namun dengan jumlah minimal yang telah ditentukan masing-masing lembaga pendidikan.
Di sisi lain, pengelolaan dunia pendidikan islam kita juga masih menggunakan konsep liberal. Artinya, konsep dunia pendidikan ini lebih mengutamakan kompetisi daripada persamaan hak untuk memperoleh pendidikan. Jika tetap mengedepankan pola ini, bagaimana nasib siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu? Begitu mudahkah sistem merampas hak-hak mereka?
kalau kita kaji akar masalah terjadinya komersialisasi dalam pendidikan islam khususnya di Indonesia hal ini merupakan rangkaian dari suatu system besar, baik ideologi, politik, ekonomi, maupun budaya yang melilit masyarakat kita. Diantara akar masalah itu adalah:
·                     Secara ideologi makin kuatnya cengkeraman ideologi kapitalisme yang melanda Indonesia. Hal ini sebagai hasil dari masuknya investasi asing yang secara resmi dibuka sejak tahun 1967 dengan dikeluarkannya Undang – Undang tentang Investasi Asing.
·                     Secara politis penguasa Orde Baru bermaksud  ingin menghapus kesan bahwa sekolah itu mahal, tapi secara ekonomis tidak memberikan topanangan dana yang cukup, sehingga sekolah dapat berkembang secara leluasa tanpa mengalami hambatan dana. Akibatnya, sekolah dibiarkan untuk mengambil inisiatif menggali daftar ulangbagi murid lama. Hal ini menunjukkan sikap pemerintah bersikap ambivalen terhadap praktik - praktik penyelewengan pendidikan itu. Hal ini di tambah lagi dengan para pengelola sekolah idak mampu dalam menajerianya.

·                     Secara budaya, bersamaan dengan makin kuatnya cengkeraman  ideology kapitalis,di masyarakat mulai muncul nilai-nilai baru tentang keberhasilan, budaya meterialis mulai menguasai masyarakat,sehingga ukuran keberhasilan seseorang pun dilihat secara materialistis. [6]

jepang

Pendidikan Zaman Jepang
Jepang menjajah Indonesia setelah mengalahkan Belanda dalam perang Dunia II pada tahun 1942dengan semboyan Asia Timur Raya atau Asia Untuk Asia.
Pada masa awalnya pemerintah Jepang seakan-akan membela kepentingan islam sebagai siasat untukmemenangkan perang. Untuk menarik dukungan rakyat Indonesia, pemerintah membolehkan didirikannya sekolah-sekolah agama dan oesantren-pesantren yang terbebas dari pengawasan Jepang. Kebijakannya sebgai berikut:
1)  Kantor urusan agama pada masa belanda disebut kantor Voor islamistische Saken diubah menjadi Sumubu yang dipimpin oleh ulama islam itu sendiri, yaitu K.H. hasyim Asy’ari dari Jombang dan didaerah-daerah disebut Sumuka.
2)      Pondok pesantren mendapat bantuan dari pembesar Jepang
3)      Sekolah-sekolah Negeri diberi pelajaran budi pekerti/agama
4)      Membentuk berisan Hizbullah yang memberi latihan dasar kemiliteran pemuda islam
5)      Jepang mengizinkan berdirinya Sekolah Tinggi Islam
6)      Ulama islam bekerja sama dengan pemimpin nasionalis membentuk barisan Pembela Tanah Air (PETA)
7)      Umat islam mendirikan Majlis Syuro Muslim Indonesia (Masyumi)
Maksudnya dari pemerintah Jepang agar kekuatan umat islam dan nasionalis bisa diarahkan untuk kepentingan memenangkan perang yang dipimpin oleh Jepang.
Dalam bidang pendidikan, guru-guru mengikuti pelatihan yang diadakan oleh jepang untuk mendoktrinisasi dalam kemakmuran bersama. Yang mana para guru diambil dari tiap-tiap kabupaten. Bahasa Indonesia juga dijadikan sebagai bahasa pengantar semua sekolah dan menjadi mata pelajaran utama. Pihak Jepang juga mewajibkan para murid untuk mempelajari adat istiadat Jepang. mereka juga diharuskan melakukan kerja bakti  sepertimengumpulkan bahan-bahan untuk perang, menanam bahan makanan, membersihkan asrama, memperbaiki jalan dan lain-lain
Demikianlah sekolah-sekolah pada masa jepang mengalami kemunduran dibandingkan dengan masa Belanda. Namun,masalah yang paling penting pada sekolah-sekolah itu  adalah nasionalisasi, bahsa pengantar, serta pembentukan kader-kader muda untuk tugas berat dimasa mendatang.
      Pendidikan Zaman Kemerdekaan
Setelah merdeka, pendidikan islam mulai mendapat kedudukan yang sangat penting dalam sistem pendidikan nasional. Selain itu pendidikan agama disekolah juga mendapat tempat yang teratur, seksama dan penuh perhatian. Pendidikan islam setahap demi setahap dimajukan. Upaya ini merupakan usaha untuk menata diri ditengah-tengah realitas sosial modern dan kompleks.

Sekolah agama termasuk madrasah, ditetapkan sebagai model dan sumber pendidikan nasional yang berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945. pendidikan islam terus ditingkatkan. Tuntutan untuk mendirikan Perguruan Tinggi juga meningkat.[5]

modern

      Pendidikan Islam Pada Zaman Penjajahan
a      Pendidikan Zaman Belanda
Penaklukan bangsa barat atas Indonesia/Nusantara dimulai dalam bidang perdagangan, dengan kekuatan militer. Kedatangan mereka memang membawa kemajuan dibidang teknologi, tetapi tujuan sebenarnya adalah untuk meningkatkan hasil jajahan. Tidak ada hal baru yang mereka ajarkan untuk perkembangan pendidikan, akan tetapi westernisasi dan kristenisasi yang mereka kenalkan.
Awal mulanya, Belanda (tahun 1610) membiarkan saja pendidikan islam di Nusantara. Akan tetapi, lambat laun mereka mengubah pendidikan islam sedikit demi sedikit. Belanda mulai berusaha melumpuhkan pengaruh islam, dimulai dari daerah yang dikuasai di Yogya dan Surakarta. Yang kemudian mendapat perlawanan dari masyarakat dan alim ulama Diponegoro. Akan tetapi mereka dapat ditaklukkan. kemudian belanda berusaha menaklukkan organisasi-organisasi islam, zakat,wakaf, iuran untuk biaya pendidikan dihapuskan. Belanda juga orang yang tidak tahu soal agama menjadi tuan kadi, dan menjadi anggota Mahkamah Tinggi. Karena usaha-usaha inilah, pendidikan islam lama kelamaan menjadi mundur dan maki terdesak oleh pendidikan barat.
Di jakarta, ketika Van den bosch menjadi gubernur jenderal di jakarta tahun 1831, ia mengeluarkan kebijakan bahwa sekolah gereja diperlukan sebagai sekolah pemerintah belanda. Departemen pendidikan menjadi satu. Disetiap daerah didirika satu sekolah agama kristen
Pada tahun 1819 Van den Capellen merencanakan berdidinya sekolah dasar untuk penduduk pribumi agar dapat membantu pemerintah belanda. Akan tetapi dia menganggap bahwa pendidikan islam tidak membantu pemerintah belanda. Belanda ingin mendirikan sekolah-sekolah dasar untuk menyaingi pesantren, madrasah,pengajian, dan lembaga-lembaga pendidikan islam lainnya.
Pada tahun 1900 Masehi kemunduran pendidikan di Nusantara mencapai puncaknya. Tahun 1925, belanda mengeluarkan peraturan lebih ketat, bahwa tidak semua kyai boeh mengajar pengajian. Peraturan ini muncul karena tumbuhnya organisasi pendidikan pada saat itu, seperti Muhammadiyah, Syarikat Islam, Al-irsyad, Nahdhatul Wathan, dan lain-lain.masih banyak lagi kebijakan-kebijakan pemerintah Belanda terhadap bangsa pribumi khususnya muslim pribumi.

Jika kita melihat peraturan-peratura belanda ini, seolah-olahpendidikan islam akan lumpuh. Akan tetapi apa yang kita saksikan sebaliknya. Pada tahun 1901 belanda melakukan politik etis, yaitu mendirikan pendidikan rakyat sampai ke desa yang memberikan hak-hak pendidikan bagi pribumi dengan tujuan mempersiapkan pegawai-pegawai yang  bekerja untuk Belanda. Belanda tidak mengakui lulusan-lulusan pendidikan tradisional. Di luar dugaan dengan didirikan sekolah rakyat orang pribumi dapat mengenal sistem oendidikan modern yang kemudian mereka terapkan untuk mengadakan pembaharuan dibidang agama dan pendidikan. Maka lahirlah gerakan pembaharuan pendidikan islam.

djawa

Pendidikan Zaman Kerajaan Islam
Berdasarkan kunjungan Ibn Batutah pada tahun 1354, Samudera Pasai merupakan tempat studi islam paling tua. Rajanya selalu mengadakan halaqah setelah shalat jum’at sampai waktu ashar. Didalamhalaqah tersebut para ulama berdiskusi tentang masalah keagamaan dan keduniawian sekaligus yang mana biasa dilakukan di istana bagi anak-anak raja, di mesjid-masjid, di rumah-rumah guru, dan surau-surau untuk masyarakat umum. Dari sinilah awal mula terbentuknya lembaga pendidikan islam.
Pendidikan agama islam di kerajaan samudera pasai semakin berkembang pesat. samudera pasai terus berfungsi sebagai pusat studi islam di asia tenggara. Selain di samudera pasai, Kerajaan Malaka dan Kerajaan Aceh juga menjadi salah satu pusat studi islam pada saat itu.
Sistem pengajaran bagi setiap muslim sama seperti negara-negara muslim yang lain, yaitu dengan pengajian Al-qur’an dengan mempelajari tajwid, juz ‘Amma untuk tahap pemula.  Untuk tahap selanjutnya merek membahas tentang persoalan fiqih dan tasawuf. Selain kegiatan diatas para ulama juga mengajarkan kepada murid-muridnya menerjemahkan bahasa Arab ke dalam bahasa Melayu.[4]
Pendidikan islam terus berkembang setelah para ulama mengarang buku-buku pelajaran keislaman menggunakan bahasa melayu. Ulama yang berperan antara lain, Hamzah Fansuri, Nuruddin Al-Raniri, Abd. Rauf singkel dan masih banyak ulama lainnya.
Seiring dengan berkembangnya zaman, setiap daerah mempunyai istilah untuk lembaga pendidikannya. Di Jawa lembaga pendidikan islam disebut pesantren, di Aceh dikenal dengan sebutandayah atau rangkang, di Minang Kabau disebut dengan surau. Di Kalimantan dikenal dengan langgar
Di jawa sebelum islam datang, pesantren sudah dikenal sebagai lembaga pendidikan agama Hindu. Namun, setelah islam masuk nama itu menjadi lembaga pendidikan islam yang didirikan oleh para penyiar agama islam.dari lembaga inilah islam menyebar keberbagai pelosok Jawa dan wilayah Indonesia Bagian Timur. Contoh pesantren yang didirikan pada saat itu adalah, Pesantren Giri yang didirika oleh Sunan Giri pada tahun 1485 dan Pesantren Gresik yang didirikan oleh Maulana Malik Ibrahim merupakan pesantren pertama di Jawa., pesantren Gunung Jati Cirebon.
Semua ilmu pendidikan islam di Nusantara ditulis dengan huruf Arab Melayu. Metode pengajaran di lembaga-lembaga pendidikan islam itu adalah sorogan dan bandungan. Sorogan adalah sistem pengajaran yang bersifat individual, biasanya bagi muri pemula. Sedangkan metode bandungan adalah sekelompok santri yang mendengarkan seorang guru membaca, menerjemahkan, mengulas buku-buku islam dalam bahasa Arab yang disebut “kitab kuning” dengan cepat.
Ada beberapa kebudayaan Hindu-Budha yang disesuaikan dengan agama dan kebudayaan islam seperti;
a.      Gerebeg disesuaikan dengan Hari Raya Idul Fitri dan Maulid nabi disebut Gerebeg poso dan Gerebeg Mulud.
b.      Gamelan Sekaten yang dibunyikan pada Gerebeg Maulud dipukul di halaman masjid Agung.
c.       Acara tepung tawar yang diiringi denga salawat Nabi,dsb.
Tiap anak laki-laki dan perempuan yang sudah berumur tujuh tahun wajib belajar.apabila pada umur tersebut mereka belum bisa mengaji maka akan menjadi olok-olokan. Biaya pendidikan islam pada saat itu ditanggung oleh masyarakat islam itu sendiri, melalui zakat, wakaf, pembayaran suatu hajat penduduk desa.