Sistem Pendidikan Pada masa Orde
Lama dan Baru
Terjadi semacam dualisme
pendidikan di Indonesia, yaitu pendidikan agama dan pendidikan umum. Di satu
pihak Departemen Agama mengelola semua jenis pendidikan agama baik di
sekolah-sekolah agama maupun di sekolah-sekolah umum.
Program pendidikan
kementrian agama sebagai berikut :
1. Pesantren klasik, semacam sekolah swasta keagamaan yang menyediakan asrama,
yang sejauh mungkin memberikan pendidikan yang bersifat pribadi, sebelumnya
terbatas pada pengajaran keagamaan serta pelaksanaan ibadah.
2. Madrasah diniyah, yaitu sekolah-sekolah yang memberikan pengajaran tambahan
bagi murid sekolah negeri yang berusia 7 sampai 20 tahun.
3. Madrasah-madrasah swasta, yaitu pesantren yang dikelola secara modern.
4. Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), yaitu sekolah dasar negeri enam tahun, di
mana perbandingan umum kira-kira 1:2.
5. Suatu percobaan baru telah ditambahkan pada Madrasah Ibtidaiyah Negeri
(MIN) 6 tahun, dengan menambahkan kursus selama 2 tahun, yang memberikan
latihan ketrampilan sederhana.
6. Pendidikan teologi agama tertinggi. Pada tingkat universitas diberikan
sejak tahun 1960 pada IAIN. IAIN ini dimulai dengan dua bagian / dua fakultas
di Yogyakarta dan dua fakultas di Jakarta.
Pendidikan Islam Pada Masa Reformasi
Lembaga pendidikan
Islam adalah lembaga pendidikan Islam memiliki potensi yang sangat besar bagi
jalannya pembangunan di negeri ini terlepas dari berbagai anggapan tentang
pendidikan yang ada sekarang, harus diingat bahwa pendidikan Islam di Indonesia
telah banyak melahirkan putera puteri bangsa yang berkualitas.
Dakwah islam / Pendidikan walisongo
Metode yang digunakan
oleh Walisongo dalam berdakwah ada tiga macam, yaitu:
1. Al-Hikmah (kebijaksanaan) : Al-Hikmah merupakan kemampuan dan ketepatan
da’i dalam memilih, memilah dan menyelaraskan teknik dakwah dengan kondisi
objektif mad’u (objek dakwah). Sebagaimana yang dilakukan oleh Sunan Gudus.
2. Al-Mau’izhah Al-Hasanah (nasihat yang baik) : memberi nasihat dengan
kata-kata yang masuk ke dalam kalbu dengan penuh kasih sayang dan ke dalam
perasaan dengan penuh kelembutan; tidak membongkar atau membeberkan kesalahan
orang lain sebab kelemah-lembutan dalam menasehati seringkali dapat meluluh
hati yang keras dan menjinakkan kalbu yang liar, ia lebih mudah melahirkan
kebaikan daripada larangan dan ancaman. Inilah yang dilakukan oleh para wali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar