Pendidikan Zaman
Kerajaan Islam
Berdasarkan kunjungan
Ibn Batutah pada tahun 1354, Samudera Pasai merupakan tempat studi islam paling
tua. Rajanya selalu mengadakan halaqah setelah shalat jum’at
sampai waktu ashar. Didalamhalaqah tersebut para ulama berdiskusi
tentang masalah keagamaan dan keduniawian sekaligus yang mana biasa dilakukan
di istana bagi anak-anak raja, di mesjid-masjid, di rumah-rumah guru, dan
surau-surau untuk masyarakat umum. Dari sinilah awal mula terbentuknya lembaga
pendidikan islam.
Pendidikan agama islam
di kerajaan samudera pasai semakin berkembang pesat. samudera pasai terus
berfungsi sebagai pusat studi islam di asia tenggara. Selain di samudera pasai,
Kerajaan Malaka dan Kerajaan Aceh juga menjadi salah satu pusat studi islam
pada saat itu.
Sistem pengajaran bagi
setiap muslim sama seperti negara-negara muslim yang lain, yaitu dengan
pengajian Al-qur’an dengan mempelajari tajwid, juz ‘Amma untuk tahap
pemula. Untuk tahap selanjutnya merek membahas tentang persoalan
fiqih dan tasawuf. Selain kegiatan diatas para ulama juga mengajarkan kepada
murid-muridnya menerjemahkan bahasa Arab ke dalam bahasa Melayu.[4]
Pendidikan islam terus
berkembang setelah para ulama mengarang buku-buku pelajaran keislaman
menggunakan bahasa melayu. Ulama yang berperan antara lain, Hamzah Fansuri,
Nuruddin Al-Raniri, Abd. Rauf singkel dan masih banyak ulama lainnya.
Seiring dengan
berkembangnya zaman, setiap daerah mempunyai istilah untuk lembaga
pendidikannya. Di Jawa lembaga pendidikan islam disebut pesantren,
di Aceh dikenal dengan sebutandayah atau rangkang, di
Minang Kabau disebut dengan surau. Di Kalimantan dikenal
dengan langgar
Di jawa sebelum islam
datang, pesantren sudah dikenal sebagai lembaga pendidikan agama Hindu. Namun,
setelah islam masuk nama itu menjadi lembaga pendidikan islam yang didirikan
oleh para penyiar agama islam.dari lembaga inilah islam menyebar keberbagai
pelosok Jawa dan wilayah Indonesia Bagian Timur. Contoh pesantren yang
didirikan pada saat itu adalah, Pesantren Giri yang didirika oleh Sunan Giri
pada tahun 1485 dan Pesantren Gresik yang didirikan oleh Maulana Malik Ibrahim
merupakan pesantren pertama di Jawa., pesantren Gunung Jati Cirebon.
Semua ilmu pendidikan
islam di Nusantara ditulis dengan huruf Arab Melayu. Metode pengajaran di
lembaga-lembaga pendidikan islam itu adalah sorogan dan bandungan.
Sorogan adalah sistem pengajaran yang bersifat individual, biasanya bagi muri
pemula. Sedangkan metode bandungan adalah sekelompok santri
yang mendengarkan seorang guru membaca, menerjemahkan, mengulas buku-buku islam
dalam bahasa Arab yang disebut “kitab kuning” dengan cepat.
Ada beberapa
kebudayaan Hindu-Budha yang disesuaikan dengan agama dan kebudayaan islam
seperti;
a. Gerebeg disesuaikan dengan Hari Raya Idul Fitri dan Maulid nabi disebut Gerebeg
poso dan Gerebeg Mulud.
b. Gamelan Sekaten yang dibunyikan pada Gerebeg Maulud dipukul di
halaman masjid Agung.
c. Acara tepung tawar yang diiringi denga salawat Nabi,dsb.
Tiap anak laki-laki
dan perempuan yang sudah berumur tujuh tahun wajib belajar.apabila pada umur
tersebut mereka belum bisa mengaji maka akan menjadi olok-olokan. Biaya
pendidikan islam pada saat itu ditanggung oleh masyarakat islam itu sendiri,
melalui zakat, wakaf, pembayaran suatu hajat penduduk desa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar