Berbeda dengan
Abu Hanifah, imam Malik (713-795 M) banyak menggunakan hadis dan tradisi
masyarakat madmah. Pendapat dua tokoh mazhab hukum ditengahi oleh imam Syafi’i
(767-820 M) dan imam Ahmad ibn Hambal (780-855 M).
Disamping empat
pendiri mazhab besar tersebut, pada masa pemerintahan bani Abbas banyak
mujtahid mutlak lain yang mengeluarkan pendapatnya secara bebas dan mendirikan
mazhabnya pula, akan tetapi karena pengikutnya tidak berkembang pemikiran dan
mazhab itu hilang bersama berlalunya zaman.
Aliran teologi
sudah ada sejak masa bani Umayah, seperti khawarij, murji’ah, dan mu’tazilah,
akan tetapi perkembangan pemikirannya masih terbatas. Teologi rasional
mu’tazilah muncul diujung pemerintahan bani Umayah. Namun pemikirannya yang
sudah kompleks dan sempurna baru dirumuskanpada masa pemerintahan bani Abbas
periode pertama. Selain itu dalam bidang sastra, penulisan hadis juga
berkembang pesat pada masa bani Abbas. Hal itu mungkin terutama disebabkan oleh
tersedianya pasilitas dan transportasi, sehingga memudahkan para pencari dan
penulis hadis bekerja, dan hadis merupakan sumber hukum kedua setelah
Al-Qur’an.
Dan pada zaman
bani Abbasiyah juga ilmu tasawuf dan ilmu bahasa mengalami kemajuan, ilmu
tasawuf adalah ilmu syari’at. Inti ajarannya adalah tekun beribadah dengan
menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan meninggalkan kesenangan perhiasan
dunia dan bersembunyi diri beribadah.dalam ilmu bahasa ini didalamnya mencakup
ilmu nahwu, shorof, ma’any, bayan, badi’, arudl, dan lain-lain. Ilmu bahasa
pada daulah bani Abbasiyah berkembang dengan pesat, karena bahasa arab semakin
berkembang memerlukan ilmu bahsa yang menyeluruh.[6]
D. Perkembangan
Ilmu-ilmu Non Keislaman (Kedokteran, Filsafat, Astronomi, dan lain-lain), Para
Ilmuan Muslim dan Kepakarannya
a. Kedokteran
Seiring dengan
ilmu-ilmu lain, ilmu kedokteran juga sempat mencapai masa keemasannya, daulah
Abbasiyah telah melahirkan banyak dokter ternama. Sekolah-sekolah tinggi
kedokteran banyak didirikan diberbagai tempat, begitulah rumah-rumah sakit
besar yang berfungsiselain sebagai perawatan para pasien,juga sebagai ajang
peraktek para dokter dan calon dokter. Diantaranya sekolah tinggi kedokteran
yang terkenal:
· Sekolah tinggi kedokteran di Yunde Shafur
(Iran)
· Sekolah tinggi kedokteran di Harran (Syria)
· Sekolah tinggi kedokteran di Bagdad.
Adapun para
dokter yang populer pada masa itu antara lain:
·
Abu Zakaria Yuhana bin Miskawaih, seorang ahli
formasi di rumah sakit Yunde Shafur.
·
Sabur bin sahal, direktur rumah sakit Yunde Shafur.
·
Hunain bin Ishak (194-264 H/ 810-878 M) seoranng
ahli penyakit mata ternama.
·
Abu Zakaria Ar-Razy kepala rumah sakit di Bagdad
dan seorang dokter ahli penyakit campak dan cacar, dan dia juga orang pertam
yang menyusun buku mengenai kedokteran anak.
·
Ibnu Sina (370-428 H/ 980-1037 M). Ia seorang
ilmuan yang multi dimensi, yakni selain mengasai ilmu kedokteran, juga
ilmu-ilmu lai, seperti filsafat dan sosiologi. Ibnu Sina berhasil menemukan sistem
peredaran darah pada manusia diantara karyanya adalah Al- Qur’an fi al
rhibb yang merupakan ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah.[7]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar