. Kuttab
atau maktab.
Kuttab atau maktab berasal dari kata dasar yang
sama, yaitu kataba yang artinya menulis. Sedangkan kuttab atau maktab berarti
tempat untuk menulis atau tempat dimana dilangsungkan kegiatan tulis
menulis.
Philip K. Hitti mengatakan bahwa kurikulum
pendidikan dikuttab ini berorientasi kepada al-qur’an sebagai suatu tex book,
hal ini mencakup pengajaran membaca dan menulis, kaligrafi, gramatikal bahasa
arab. Sejarah Nabi hadits, khususnya yang berkaitan dengan Nabi SAW. Bahkan
dalam perkembangan kuttab dibedakan menjadi dua, yaitu kuttab yang mengajarkan
pengetahuan non agama (secular learning) dan kuttab yang mengajarkan ilmu agama
(religius learning).
Dengan adanya perubahan kurikulum tersebut dapat
dikatakan bahwa kuttab pada awal perkembangan merupakan lembaga pendidikan yang
tertutup dan setelah adanya persentuhan dengan peradaban helenisme menjadi
lembaga pendidikan yang terbuka terhadap pengetahuan umum, termasuk filsafat.
3. Halaqah.
Halaqah artinya lingkaran. Artinya proses belajar
mengajar disini dilaksanakan dimana murid dan melingkari gurunya.
Seorang guru biasanya duduk dilantai menerangkan, membacakan karangannya, atau
memberikan komentar atas karya pemikiran orang lain. Kegiatan di halaqah ini
tidak khusus untuk megajarkan atau mendiskusikan ilmu agama, tetapi juga ilmu
pengetahuan umum, termasuk filsafat.
4. Majlis.
Istilah majlis telah dipakai dalam pendidikan sejak
abad pertama Islam, mulanya ia merujuk pada arti tempat-tempat pelaksanakan
belajar mengajar. Pada perkembangan berikutnya disaat dunia pendidikan Islam
mengalami zaman keemasan, majlis berarti sesi dimana aktivitas pengajaran atau
berlangsung.
Seiring dengan
perkembangan pengetahuan dalam Islam, majlis digunakan sebagai kegiatan
transfer ilmu pengetahuan sebagai majlis banyak ragamnya, menurut Muniruddin
Ahmad ada 7 (tujuh) macam majlis, sebagai berikut:
a. Majlis al-hadits
b. Majlis al-tadris
c. Majlis al-manazharah
d. Majlis muzakarah
e. Majlis al-syu’ara
f. Majlis al-adab
g. Majlis al-fatwa dan al-nazar
5. Masjid
Semenjak berdirinya di zaman Nabi SAW, masjid telah
menjadi pusat kegiatan dan informasi berbagai masalah kaum muslimin, baik yang
menyangkut pendidikan maupun sosial ekonomi. Namun, yang lebih penting adalah
sebagai lembaga pendidikan.
Perkembangan
masjid sangat signifikan dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat,
terlebih lagi pada saat masyarakat islam mengalami kemajuan. Urgensi masyarakat
terhadap masjid menjadi semakin kompleks, hal ini menyebabkan karakteristik
masjid berkembang menjadi dua bentuk yaitu mesjid sebagai tempat sholat jum’at
atau jami dan masjis biasa.
Kurikulum
pendidikan dimasjid biasanya merupakan tumpuan pemerintah untuk memperoleh pejabat-penjabat
pemerintah, seperti, qodhi, khotib dan iman masjid.
6. Khan.
Khan biasanya difungsikan sebagai penyimpanan
barang-barang dalam jumlah besar atau sebagai sarana komersial yang memiliki
banyak toko, seperti, khan al narsi yang berlokasi di alun-alun karkh di
bagdad.
7. Ribarth.
Ribath adalah tempat kegiatan kaum sufi yang ingin
menjauhkan diri dari kehidupan duniawi dan mengkonsentrasikan diri untuk
semata-mata ibadah.
8. Rumah – Ulama.
Rumah sebenarnya bukan temapat yang nyaman untuk
kegiatan belajar mengajar, namun para ulama dizaman klasik banyak yang
mempergunakan rumahnya secara ikhlas untuk kegiatan belajar mengajar dan
pengembangan ilmu pengetahuan.
9. Toko-toko buku
dan perpustakaan.
Toko-toko buku memiliki peranan penting dalam
kegiatan keilmuan Islam, pada awalnya memang hanya manjual buku-buku, tetapi
berikutnya menjadi sarana untuk berdiskusi dan berdebat, bahkan pertemuan rutin
sering dirancang dan dilaksanakan disitu.
Disamping toko buku, perpustakan juga memilki
peranan penting dalam kegiatan transfer keilmuan Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar