. Kehidupan guru
Tinggi rendahnya penghormatan terhadap guru pada
awal abad-abad pendidikan muslim tergantung atas dua faktor, yaitu:
o Tempat dimana dia mengajar, di Persia: penghormatan
kepada guru merupakan suatu tradisi lama dalam pendidikan zoroastrian, tradisi
ini dilanjutkan kedalam periode Islam.
o Tingkatan dimana ia belajar. Biasanya, penghormatan
kepada guru semakin tinggi terhadap guru sekolah menengah dan pendidikan
tinggi. Guru-guru sekolah dasar kurang dihargai karena pengetahuannya yang amat
sederhana dan karena tingkat pendidikan tampaknya sudah menjadi daya tarik.
b. Tipe-tipe guru.
Ada enam tipe guru yaitu muallim, mu’addib,
mudarris, syaikh, ustad, imam, belum lagi termasukguru pribadi dan para
muaiyyid atau asisten (guru-guru yunior). Muallim biasanya julukan bagi guru
sekolah dasar, mu’addib, arti harfiyahnya orang yang beradab atau guru adab,
adalah julukan untuk guru-guru sekolah dasar dan menengah, mudarris adalah satu
julukan propesional untuk seorang murid atau pembantu. Ia sama dengan asisten
profesor dan membantu mahasiswa menjelaskan hal-hal yang sulit mengenai kuliah
yang diberikan profesornya, syaikh atau guru besar adalah julukan khusus yang
menggambarkan keunggulan akademis atau teologis, imam adalah guru agama
tertinggi.
c. Pakaian guru
Selama pemerintahan abbasiyah para guru mengikuti
gaya Persia, mengenakan tutup kepala Persia, celana lebar, rok, rompi, dan
jaket. Semuanya ditutup dengan jubah atau aba mantel luar dan taylasan diatas
surban.
Keberadaan guru mempunyai pengaruh yang penting
dalam suatu pemerintahan, bahkan kekuasaannya mempunyai andil yang besar dalam
kekuasaan kholifah, karena guru terhimpun dalam suatu organisasi yang mempunyai
fower yang dapat mengendalikan kepentingan kholifah, khususnya dalam hal
pengangkatan dan pemberian izin untuk menjadi pengajar di masjid.
3. Pola interaksi
guru dan siswa pada pendidikan islam klasik
a. Pola sikap guru
terhadap siswa dalam interaksi edukatif pada pendidikan Islam klasik.Bentuk
pola sikap guru pada pendidikan islam klasik berdasarkan pada nilai-nilai
hubungan yang ada pada pola bentuk sikap Rasulullah dan Sahabat dalam
mendakwahkan islam, yaitu pola keikhlasan, pola kekeluargaan, pola
kesederajatan dan pola uswatun hasanah.
v Pola keikhlasan
Pola keikhlasan mengandung makna bahwa interaksi
yang berlangsung bertujuan agar siswa dapat menguasai ilmu pengetahuan yang
diajarkan tanpa mengharap ganjaran materi dari interaksi tersebut, dan
menganggap interaksi itu berlangsung sesuai dengan panggilan jiwa dan untuk
mengabdikan diri kepada Allah SWT.
v Pola kekeluargaan
Pada masa ini guru memposisikan dirinya dan siswa
seperti orang tua dan anak, artinya mereka mempunyai tanggung jawab yang penuh
dalam pendidikan tersebut, dan mencurahkan kasih sayang seperti menyayangi anak
sendiri.
Pada pola ini guru senantiasa bersikap:
· Lemah lembut dalam proses belajar mengajar.
· Bijaksana dalam memberikan pujian atau
hadiah dan hukuman pada anak.
· Guru tidak bersikap pilih kasih.
v Pola kesederajatan
Guru dalam interaksinya senantiasa memunculkan
sikap tawadhu terhadap siswanya, pola interaksi seperti ini membuat guru
menghargai potensi yang dimiliki anak. Dengan demikian pola yang dimunculkan
bernuansa demokratis, guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menyampaikan
sesuatu yang belum dimengerti.
v Pola al uswah al hasanah
Pada pendidikan islam klasik, interaksi yang
terjadi antara guru dan siswa tidak hanya terjadi pada proses belajar mengajar,
tetapi berlangsung juga di tengah masyarakat, dimana guru menjadi agen moral
sekaligus model dari moral yang diajarkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar